Minggu, 18 November 2012

bahayaaaaaaaaa

Jakarta, Penggemar poni lempar ala Kangen Band sepertinya harus berhati-hati. Beberapa ahli optometri mengatakan, model rambut dengan poni yang menutupi sebelah mata bisa memicu sindrom mata malas serta cedera leher. Separah itukah risikonya?

Seorang optometris atau dokter mata di Australia, Dr Andrew Hogan menyampaikan peringatan tersebut dalam sebuah artikel di Daily Telegraph. Menurutnya, belahan rambut yang dibiarkan menutupi mata dan separuh wajah adalah ancaman serius bagi kesehatan mata.

"Jika poni dibiarkan menutup sebelah mata sepanjang waktu, mata jadi tidak terbiasa melihat banyak detail. Kalau terjadi sejak usia muda, maka mata tersebut bisa mengalami amblyotic," kata Dr Hogan seperti dikutip dari Daily Telegraph, Selasa (15/5/2012).

Amblyotic yang dimaksud Dr Hogan sering disebut juga dengan istilah lazy eyes syndrome atau sindrom mata malas. Gangguan ini dipicu oleh pertumbuhan saraf mata yang tidak sempurna, sehingga koordinasi gerak dan penangkapan bayangan pada mata kanan dan kiri tidak seimbang.

Selain itu, risiko lain yang dihadapi para pemilik poni lempar adalah cedera leher mengingat model poni seperti ini sering dikibas-kibaskan kalau mulai terasa gatal di wajah. Saat mengibaskan atau melempar poni tersebut, leher mengalami beban berlebih dan bisa mengalami cedera.

Namun tidak semua ahli sependapat bahwa poni lempar menyimpan risiko sebesar itu bagi kesehatan. Meski dasarnya cukup masuk akal, kekhawatiran bahwa model rambut seperti itu sangat berbahaya dan harus dilarang adalah kekhawatiran yang terlalu berlebihan.

"Risiko amblyotic baru ada jika seseorang memakai model rambut seperti itu sejak sangat kecil dan salah satu matanya terhalang selama 24 jam/hari dan 7 hari/minggu," kata Dr Leonard Press, seorang dokter mata dari American Optometric Association.

Namun Dr Press membenarkan bahwa mata yang selalu terhalang pandangannya memang berisiko mengalami sindrom mata malas. Sindrom ini paling rentan dialami pada usia di bawah 7 tahun, namun relatif jarang ada yang baru mengalaminya di usia dewasa.

Soal risiko cedera leher, Dr Press tidak memberikan komentar. Namun selama gerakan lehernya tidak terlalu menghentak, risiko cedera tampaknya relatif kecil apalagi hingga kini belum ada data resmi yang menunjukkan jumlah kasus patah tulang leher saat melempar poni.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar